Dampak Gempa Flores – masih di rasakan ribuan masyarakat yang bertahan di lokasi pengungsian, khususnya di Pulau Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Setelah kehilangan atau meninggalkan tempat tinggal akibat bencana, warga kini menghadapi persoalan baru berupa semakin terbatasnya ketersediaan air yang aman untuk di minum.
Cuaca panas yang berlangsung di wilayah tersebut ikut memperburuk keadaan. Selama ini, sebagian masyarakat mengandalkan bak penampungan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, persediaan di sejumlah penampungan terus berkurang. Bahkan, beberapa bak di laporkan sudah tidak memiliki cadangan air.
Camat Palue Rudolfus Riba menjelaskan pada Senin, 7 September 2026, bahwa panas yang terjadi membuat stok air masyarakat semakin terbatas. Penampungan air hujan yang biasanya menjadi salah satu sumber utama warga juga mulai mengering.
Situasi tersebut menjadi persoalan serius karena masyarakat yang terdampak gempa masih harus memenuhi kebutuhan dasar selama berada di pengungsian.
Pengungsi Membutuhkan Air hingga Perlengkapan Tidur
Kesulitan yang di hadapi masyarakat Palue tidak berhenti pada persoalan air. Sejumlah kebutuhan pokok lainnya juga masih di perlukan untuk mendukung kehidupan warga selama masa pengungsian.
Salah seorang warga Palue, Nestor Langga, menyebut masyarakat membutuhkan dukungan berupa hunian sementara. Selain itu, selimut dan matras untuk alas tidur juga di perlukan agar kondisi pengungsi menjadi lebih layak.
Kebutuhan tersebut semakin penting karena ribuan orang belum dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelum bencana. Selama berada di posko, ketersediaan fasilitas dasar menjadi faktor penting untuk menjaga kondisi masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya.
Lebih dari 3.400 Orang Bertahan di Lokasi Pengungsian
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka hingga 5 September 2026 mencatat sebanyak 924 kepala keluarga masih mengungsi setelah gempa Flores. Jumlah tersebut setara dengan 3.462 orang.
Sebagian besar pengungsi berada di Kecamatan Palue. Di wilayah kepulauan tersebut tercatat 892 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 3.340 jiwa yang masih menempati sejumlah titik pengungsian.
Sementara itu, Kecamatan Nita mencatat 20 kepala keluarga atau 96 orang terdampak yang masih mengungsi. Adapun Kecamatan Kangae memiliki 12 kepala keluarga dengan jumlah 53 jiwa.
Pulau Palue mengalami dampak besar karena posisinya berada sekitar 20 kilometer dari pusat gempa yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Guncangan tersebut tidak hanya berdampak pada rumah penduduk, tetapi juga mengganggu berbagai fasilitas yang sebelumnya menunjang aktivitas masyarakat.
Jaringan internet di laporkan sempat terputus secara menyeluruh. Sejumlah fasilitas umum tidak dapat berfungsi secara normal, sementara kerusakan rumah membuat masyarakat harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Bencana tersebut juga mengakibatkan adanya korban meninggal maupun warga yang mengalami luka.

AMBIL AIR- Warga menyuling air dari uap panas bumi di Bukit Edo, Desa Kesokoja, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, NTT
Kerusakan Bak Penampungan Memperburuk Persediaan Air
Masalah ketersediaan air semakin berat setelah gempa merusak infrastruktur penyimpanan milik masyarakat.
Kepala Dusun Tomu, Vinsensius Ngaji, menyampaikan bahwa masyarakat Desa Tuanggeo kesulitan memperoleh air bersih karena bak penampungan air hujan mengalami keretakan setelah gempa.
Kerusakan tersebut sangat berdampak karena penampungan air hujan merupakan bagian penting dari sistem penyediaan air bagi masyarakat setempat. Ketika fasilitas itu tidak lagi dapat di gunakan secara optimal, warga harus mencari sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam dua minggu terakhir, sebagian masyarakat terpaksa membeli air sumur yang berasal dari kawasan Pantai Uwa. Setiap jerigen berkapasitas sekitar 20 liter di jual dengan harga Rp10.000.
Namun, air tersebut bukan pilihan ideal untuk kebutuhan konsumsi. Kandungan garamnya cukup tinggi sehingga tidak sesuai apabila terus di gunakan sebagai sumber air minum dalam jangka panjang.
Warga Harus Mengeluarkan Biaya untuk Mendapatkan Air
Keterbatasan pasokan membuat masyarakat terdampak gempa harus menanggung pengeluaran tambahan di tengah situasi darurat.
Theresia Nona Eci, salah seorang warga terdampak, meminta agar distribusi air yang layak di konsumsi menjadi perhatian utama. Menurutnya, keberadaan air merupakan kebutuhan paling mendasar agar masyarakat dapat bertahan selama menghadapi dampak bencana.
Tanpa distribusi yang memadai, warga tidak memiliki banyak pilihan selain membeli air dari sekitar pantai meskipun kualitasnya tidak ideal. Kondisi tersebut sekaligus menambah beban ekonomi masyarakat yang sebelumnya sudah terdampak kerusakan akibat gempa.
Karena itu, penyediaan air tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan minum. Ketersediaan pasokan yang memadai juga di butuhkan untuk mendukung kebersihan dan berbagai aktivitas dasar selama masyarakat tinggal di pengungsian.
Pemerintah NTT Diminta Mempercepat Distribusi Bantuan
Kondisi masyarakat Palue mendapat perhatian Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Flores Timur. Ketua Forum PRB Flores Timur yang juga menjabat Direktur YASNURIH, Bung Sila, meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk memenuhi kebutuhan pengungsi.
Ia mendorong Gubernur Nusa Tenggara Timur bersama Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Flores Provinsi NTT untuk mempercepat pengiriman air ke Pulau Palue.
Menurutnya, kombinasi antara suhu panas dan terbatasnya pasokan air dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Kekurangan cairan menjadi salah satu ancaman yang perlu di antisipasi, terutama bagi masyarakat yang harus tinggal dalam kondisi darurat.
Oleh sebab itu, distribusi bantuan di nilai perlu dilakukan secepat mungkin agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi sebelum keadaan semakin memburuk.
Selain meminta percepatan pasokan, Bung Sila turut menyoroti biaya yang harus di keluarkan sendiri oleh masyarakat selama masa tanggap darurat. Ia meminta Pemerintah Provinsi NTT memberikan kompensasi terhadap pengeluaran warga terdampak sesuai ketentuan yang berlaku.
Saat ribuan warga masih bertahan di pengungsian, pemenuhan kebutuhan dasar menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan segera. Air layak konsumsi, tempat tinggal sementara, selimut, dan perlengkapan tidur menjadi beberapa kebutuhan utama masyarakat Pulau Palue setelah gempa Flores.
Distribusi bantuan yang cepat dan merata di harapkan dapat mengurangi beban masyarakat sekaligus mencegah munculnya persoalan kesehatan baru selama proses penanganan pascabencana berlangsung.