Tradisi Mecaru Mejaga-jaga – kembali dilaksanakan warga Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali. Masyarakat menggelar ritual sakral tersebut bertepatan dengan rahina Tilem Sasih Karo, Selasa (11/8/2026).
Masyarakat setempat terus mempertahankan upacara ini sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai spiritual tinggi. Melalui ritual tersebut, krama desa memohon keselamatan sekaligus berupaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Jero Bendesa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Nyoman Sujana, menjelaskan bahwa masyarakat telah menjalankan Mecaru Mejaga-jaga secara turun-temurun. Ritual ini memiliki tujuan utama untuk menetralisir bhuana agung dan bhuana alit.
Bhuana agung merujuk pada alam semesta, sedangkan bhuana alit berkaitan dengan diri manusia. Karena itu, masyarakat berharap pelaksanaan upacara dapat membawa kerahayuan bagi lingkungan dan seluruh warga desa adat.
Menariknya, Tilem Sasih Karo berlangsung pada periode bulan kemerdekaan Indonesia. Dalam perjalanan tradisi tersebut, pelaksanaan Mecaru Mejaga-jaga bahkan pernah bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus.
Prosesi Mecaru Mejaga-jaga Libatkan Krama Desa
Sejak pagi, suasana khidmat terlihat di sejumlah bagian Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa. Warga berkumpul untuk mengikuti rangkaian upacara yang berlangsung hingga sore hari.
Salah satu sarana utama dalam ritual tersebut adalah sapi jantan berwarna merah. Masyarakat memilih sapi berdasarkan sejumlah persyaratan khusus sebelum menggunakannya dalam rangkaian upacara.
Setelah menjalani prosesi awal, warga mengarak sapi mengelilingi wilayah desa. Suara gamelan mengiringi perjalanan tersebut bersama antusiasme masyarakat yang mengikuti prosesi.
Pemuda, remaja, dan anak-anak ikut mendominasi barisan warga dalam pelaksanaan tradisi. Keterlibatan generasi muda sekaligus memperlihatkan proses pewarisan budaya yang masih berlangsung di tengah masyarakat.
Sebuah mobil pemadam kebakaran juga membantu menyiramkan air kepada warga selama prosesi berlangsung. Langkah tersebut mendukung kelancaran kegiatan yang melibatkan banyak peserta.
Makna Mecaru Mejaga-jaga dalam Tri Hita Karana
Masyarakat memandang Mecaru Mejaga-jaga sebagai bagian dari penerapan nilai Tri Hita Karana. Salah satu prinsipnya menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.
Nyoman Sujana menjelaskan bahwa ritual tersebut juga berkaitan dengan konsep nyomia bhuta kala. Masyarakat menjalankannya untuk menetralisir pengaruh negatif sehingga dapat kembali menjadi energi yang membawa keharmonisan.
Melalui upacara ini, warga memanjatkan harapan agar masyarakat terhindar dari berbagai ancaman, termasuk penyakit, bencana, dan marabahaya. Selain itu, ritual menjadi sarana menjaga keseimbangan kehidupan di wilayah desa adat.
Nilai spiritual tersebut membuat Mecaru Mejaga-jaga tidak sekadar menjadi kegiatan tradisional. Upacara ini juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.
Rangkaian Ritual Mengelilingi Wilayah Desa
Prosesi dimulai setelah masyarakat menyelesaikan berbagai persiapan upacara. Warga kemudian membawa sapi dari catus pata atau persimpangan utama desa menuju wilayah utara.
Di setiap bagian desa, masyarakat melaksanakan tahapan ritual sesuai aturan adat yang diwariskan oleh leluhur. Prosesi kemudian bergerak dari utara menuju selatan sebelum berlanjut ke arah timur dan barat.
Pada beberapa titik, pemimpin upacara menjalankan ritual terhadap bagian tertentu dari tubuh sapi. Setelah rangkaian mengelilingi wilayah selesai, warga membawa sapi kembali menuju catus pata.
Tahapan berikutnya berakhir dengan penyembelihan sapi sebagai bagian dari rangkaian pecaruan. Setelah itu, masyarakat mengolah bagian sapi untuk keperluan upacara sesuai ketentuan adat setempat.
Seluruh tahapan tersebut memiliki aturan tersendiri. Karena itu, masyarakat tetap menjalankan prosesi berdasarkan tata cara yang telah diwariskan lintas generasi.
Mecaru Mejaga-jaga Pernah Bertepatan dengan 17 Agustus
Ada keunikan lain yang melekat pada pelaksanaan tradisi ini. Tilem Sasih Karo selalu berada pada periode bulan kemerdekaan Republik Indonesia.
Bahkan, masyarakat mencatat ritual tersebut pernah berlangsung tepat pada 17 Agustus. Kebetulan waktu tersebut memberikan makna tersendiri bagi warga Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa.
Masyarakat tidak hanya memaknai ritual sebagai bentuk yadnya dan pelestarian tradisi keagamaan. Momentum tersebut juga menjadi pengingat tentang pentingnya kebersamaan dalam menjaga desa, daerah, serta kehidupan berbangsa.
Warga berharap keharmonisan tidak hanya hadir dalam kehidupan masyarakat desa. Mereka juga memanjatkan doa agar daerah dan bangsa Indonesia selalu mendapatkan keselamatan serta terhindar dari berbagai ancaman.
Sapi Merah Dipilih dengan Persyaratan Khusus
Sapi yang menjadi sarana ritual Mecaru Mejaga-jaga harus memenuhi kriteria tertentu. Menurut Nyoman Sujana, masyarakat menggunakan sapi jantan sehat, tidak memiliki cacat fisik, dan telah di kebiri.
Selain itu, sapi harus memiliki warna merah yang merata tanpa noda. Sapi yang di gunakan dalam ritual tahun ini berusia sekitar tujuh tahun.
Masyarakat mendapatkan sapi tersebut dari Singaraja dengan harga sekitar Rp43 juta. Persiapannya juga tidak dilakukan secara mendadak.
Warga telah mempersiapkan sapi selama kurang lebih lima bulan sebelum upacara berlangsung. Tiga pemangku turut berperan dalam proses pemilihannya, yaitu Mangku Prajapati, Mangku Kubayan, dan Mangku Yangapi.
Pemilihan secara khusus menunjukkan pentingnya setiap sarana dalam rangkaian ritual. Masyarakat tetap mengikuti ketentuan adat agar pelaksanaan upacara sesuai dengan warisan para pendahulu.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Perkembangan zaman tidak membuat masyarakat Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa meninggalkan Mecaru Mejaga-jaga. Sebaliknya, warga terus mempertahankan tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun tersebut.
Mecaru Mejaga-jaga juga telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Keunikan dan nilai yang terkandung di dalamnya bahkan menarik perhatian kalangan akademisi.
Menurut Nyoman Sujana, sejumlah mahasiswa telah menjadikan ritual tersebut sebagai objek penelitian untuk penyusunan skripsi. Hal itu menunjukkan bahwa Mecaru Mejaga-jaga tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang dapat di kaji secara akademis.
Pelaksanaan ritual dari pagi hingga sore berlangsung tertib dan penuh rasa bakti. Bagi masyarakat Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, menjaga Mecaru Mejaga-jaga berarti mempertahankan hubungan dengan warisan leluhur sekaligus merawat keharmonisan manusia, alam, dan kehidupan sosial.