Bendungan Karet Pati Mengering – Bendungan karet yang berada di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, menarik perhatian masyarakat setelah kondisi airnya menyusut hingga mengering. Fenomena tersebut bahkan mengubah kawasan bendungan menjadi lokasi wisata dadakan yang ramai di kunjungi warga.
Masyarakat dari berbagai wilayah mulai berdatangan untuk menyaksikan secara langsung kondisi bendungan yang berbeda dari biasanya. Area yang sebelumnya di penuhi aliran air kini berubah menjadi hamparan yang dapat di gunakan warga untuk beraktivitas.
Selain melihat kondisi bendungan, sejumlah pengunjung memilih menghabiskan waktu dengan bersantai bersama teman maupun keluarga. Mereka duduk-duduk di sekitar kawasan, menikmati makanan ringan, mengobrol, hingga menunggu pemandangan matahari terbenam.
Media sosial turut berperan dalam meningkatkan rasa penasaran masyarakat. Informasi mengenai kondisi bendungan yang mengering menyebar melalui berbagai unggahan, termasuk video di TikTok. Akibatnya, semakin banyak warga tertarik datang untuk melihat fenomena tersebut secara langsung.
Warga Datang karena Penasaran dengan Kondisi Bendungan
Novi, warga Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, menjadi salah satu pengunjung yang sengaja mendatangi bendungan karet. Ia mengetahui kondisi kawasan tersebut melalui media sosial dan merasa penasaran karena lokasi itu ramai dibicarakan.
Bersama temannya, Novi memilih datang pada sore hari. Selain memenuhi rasa penasaran, kunjungan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk bersantai setelah menyelesaikan aktivitas pekerjaan.
“Penasaran saja, tahu dari TikTok ini ramai banget, sungainya kering. Sambil mengobrol, makan jajan, menikmati angin sepoi-sepoi,” kata Novi saat berada di lokasi.
Menurut Novi, surutnya air membuat bendungan karet menawarkan pemandangan yang tidak biasa. Area yang sebelumnya menjadi bagian dari aliran air kini dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat untuk duduk dan menikmati suasana sore.
Meskipun terdapat aroma kurang sedap di sekitar kawasan, kondisi tersebut tidak menghalangi rasa penasarannya untuk datang. Terlebih, ini menjadi pengalaman pertamanya mengunjungi bendungan ketika air sedang mengering.
“Waktu kering pertama kali jadi ke sini. Menikmati suasananya saja meskipun agak bau,” ujarnya.
Fenomena tersebut akhirnya menciptakan aktivitas baru di kawasan bendungan. Jika sebelumnya masyarakat mengenal lokasi itu sebagai bagian dari aliran air, kini sebagian warga menjadikannya tempat untuk berkumpul dan menikmati suasana.

Warga dari sejumlah desa di Kabupaten berdatangan untuk melihat langsung kondisi bendungan karet yang mengering. Mereka datang untuk nongkrong, beli jajanan hingga melihat matahari terbenam.
Bendungan Karet Juga Jadi Lokasi Berburu Ikan Sapu-sapu
Tidak hanya menarik perhatian pengunjung, menyusutnya debit air juga memberikan kesempatan bagi warga untuk menangkap ikan sapu-sapu. Ikan tersebut terlihat memenuhi sejumlah bagian area embung setelah volume air berkurang.
Warga sekitar telah melakukan aktivitas penangkapan ikan sapu-sapu selama kurang lebih satu pekan. Mereka memanfaatkan kondisi air yang surut untuk mengumpulkan ikan tanpa perlu mengeluarkan biaya.
Setelah terkumpul, warga tidak hanya membawa ikan tersebut untuk kebutuhan pribadi. Sebagian hasil tangkapan mereka jual kepada pengepul. Selanjutnya, pengepul mengirim ikan itu ke perusahaan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku trembel atau tepung ikan.
Rohman, salah seorang warga, menjelaskan bahwa masyarakat bisa mendapatkan ikan sapu-sapu secara gratis dengan menangkapnya langsung di lokasi. Kondisi ini membuat aktivitas tersebut menarik minat sejumlah warga.
“Disuruh kirim ke PT, buat trembel atau tepung ikan. Kami ambil gratis,” ungkap Rohman.
Dengan demikian, surutnya bendungan tidak hanya menghadirkan pemandangan berbeda, tetapi juga memberikan aktivitas tambahan bagi masyarakat sekitar. Warga dapat mengumpulkan ikan yang kemudian memiliki nilai jual.
Ikan Sapu-sapu Dijual Rp2.500 per Kilogram
Menurut Rohman, warga menjual ikan sapu-sapu hasil tangkapan dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram. Aktivitas pengumpulan dan penjualan ikan tersebut baru berlangsung sekitar satu pekan.
“Kami jual Rp2.500 per kilogram, baru satu mingguan,” katanya.
Kesempatan menangkap ikan juga tidak terbatas untuk penduduk yang tinggal di sekitar bendungan. Masyarakat dari daerah lain dapat datang dan ikut mengambil ikan sapu-sapu selama kondisinya masih memungkinkan.
“Bebas siapa saja yang ke sini,” ujar Rohman.
Situasi tersebut membuat kawasan bendungan karet di Desa Bungasrejo memiliki dua aktivitas yang berlangsung secara bersamaan. Di satu sisi, masyarakat datang untuk menikmati suasana sore dan melihat fenomena bendungan yang mengering. Di sisi lain, warga memanfaatkan penyusutan debit air untuk mengumpulkan ikan sapu-sapu yang memiliki nilai ekonomi.
Ramainya kunjungan menunjukkan bahwa perubahan kondisi lingkungan dapat memunculkan aktivitas masyarakat yang tidak terduga. Bendungan yang biasanya berfungsi sebagai kawasan aliran air kini untuk sementara menjadi tempat berkumpul, menikmati pemandangan matahari terbenam, sekaligus lokasi warga mencari ikan sapu-sapu.
Meski demikian, fenomena tersebut bergantung pada kondisi air di bendungan. Selama debit air masih rendah, kawasan Bendungan Karet Bungasrejo kemungkinan tetap menarik perhatian warga yang ingin melihat langsung kondisi sungai mengering maupun mencoba menangkap ikan sapu-sapu.