Desa wisata Wae Rebo – di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menerima kunjungan wisatawan mulai Selasa (1/9/2026). Pembukaan tersebut dilakukan setelah destinasi yang di kenal dengan panorama pegunungan dan rumah adat Mbaru Niang itu sempat menghentikan aktivitas wisata selama hampir dua pekan.
Pengelola sebelumnya menutup sementara Wae Rebo sejak 15 Agustus 2026. Keputusan tersebut di ambil menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan perjalanan menuju kawasan wisata.
Ketua Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo, Mikael Tonso, mengonfirmasi bahwa aktivitas kunjungan mulai kembali berjalan pada 1 September 2026.
Menurut pengelola, keputusan membuka kembali kawasan wisata tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Kondisi lingkungan setelah gempa terlebih dahulu menjadi perhatian, terutama jalur trekking yang menjadi akses utama wisatawan menuju perkampungan adat.
Kunjungan Wae Rebo Di Buka Secara Bertahap
Gempa yang terjadi pada pertengahan Agustus membuat pengelola mengambil langkah antisipasi dengan menghentikan kunjungan. Salah satu pertimbangannya adalah risiko longsor yang dapat muncul di sepanjang jalur trekking.
Karakteristik perjalanan menuju Wae Rebo memang berbeda di bandingkan dengan destinasi wisata yang dapat di jangkau langsung menggunakan kendaraan. Pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jalur yang melintasi kawasan berbukit dan lingkungan pegunungan.
Karena itu, kondisi jalur menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah kunjungan wisata dapat dilakukan dengan aman.
Setelah melakukan pemantauan terhadap situasi pascagempa, pengelola akhirnya memutuskan mencoba membuka kembali kunjungan. Namun, pembukaan tersebut berlangsung secara terbatas dan bertahap.
Langkah ini memungkinkan pengelola terus mengevaluasi situasi di lapangan sembari menerima wisatawan. Kondisi jalur trekking, lingkungan sekitar, hingga perubahan situasi alam akan menjadi bagian dari pemantauan selama kunjungan berlangsung.
Pengelola juga menegaskan bahwa kebijakan pembukaan dapat berubah apabila muncul kondisi yang berpotensi membahayakan. Jika hasil pemantauan menunjukkan situasi tidak lagi aman, aktivitas wisata dapat kembali di hentikan untuk sementara waktu.
Wisatawan Di Minta Mengikuti Arahan Petugas
Seiring dengan di bukanya kembali Wae Rebo, wisatawan di minta tidak mengabaikan aspek keselamatan selama perjalanan. Pengunjung perlu mengikuti petunjuk petugas maupun pemandu yang mengetahui kondisi jalur menuju desa adat tersebut.
Selain itu, wisatawan di sarankan mempertimbangkan kondisi perjalanan sebelum memutuskan melakukan trekking. Situasi cuaca dan kondisi alam di kawasan pegunungan dapat berubah sehingga kesiapan perjalanan menjadi hal penting.
Pengelola menempatkan keselamatan masyarakat lokal dan pengunjung sebagai pertimbangan utama dalam pelaksanaan aktivitas wisata pascagempa.
Dengan penerapan kunjungan secara bertahap, pengelola dapat mengambil tindakan lebih cepat apabila menemukan perubahan kondisi di jalur maupun lingkungan sekitar Wae Rebo.

Desa Adat Wae Rebo.
Pesona Mbaru Niang di Wae Rebo
Wae Rebo merupakan salah satu desa wisata yang di kenal luas karena kekayaan budaya serta panorama alamnya. Permukiman adat ini berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.
Lokasinya yang berada di kawasan pegunungan membuat Wae Rebo kerap di selimuti kabut dan awan. Pemandangan tersebut kemudian membuat kawasan ini populer dengan julukan “surga di atas awan”.
Daya tarik yang paling identik dengan Wae Rebo adalah keberadaan tujuh rumah adat bernama Mbaru Niang. Bangunan tradisional tersebut memiliki bentuk kerucut dengan atap yang menjulang dan menjadi ikon utama perkampungan.
Keberadaan Mbaru Niang bukan sekadar menjadi objek yang menarik bagi wisatawan. Rumah adat tersebut juga menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat Wae Rebo yang tetap di jaga hingga sekarang.
Alam dan Budaya Menjadi Daya Tarik Wae Rebo
Selain rumah adat, wisatawan datang ke Wae Rebo untuk menikmati bentang alam pegunungan yang mengelilingi permukiman. Suasana hijau dan udara pegunungan memberikan pengalaman berbeda di bandingkan dengan destinasi wisata perkotaan.
Perjalanan menuju desa juga menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Wisatawan harus melewati jalur trekking sebelum akhirnya mencapai kawasan permukiman yang berada di tengah bentang alam Manggarai.
Sesampainya di Wae Rebo, pengunjung tidak hanya dapat melihat arsitektur tradisional. Interaksi dengan masyarakat setempat turut memberikan kesempatan untuk mengenal kehidupan dan kebudayaan lokal secara lebih dekat.
Keramahtamahan masyarakat menjadi salah satu bagian yang melengkapi pengalaman wisata di desa tersebut. Kehidupan tradisional yang masih di pertahankan berpadu dengan lingkungan alam yang relatif terjaga.
Di bukanya kembali Wae Rebo menjadi kabar penting bagi wisatawan yang berencana mengunjungi salah satu destinasi budaya unggulan di NTT tersebut. Meski demikian, pembukaan masih dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi alam.
Wisatawan yang hendak datang perlu mematuhi arahan pengelola dan pemandu selama berada di kawasan. Pengelola juga akan terus melakukan pemantauan sehingga kegiatan wisata dapat kembali di hentikan apabila muncul kondisi yang berisiko bagi keselamatan.