Gerhana Matahari – total 12 Agustus 2026 akan menjadi kesempatan penting bagi ilmuwan Italia untuk menguji teknologi baru dalam mempelajari korona Matahari. Para peneliti berencana mengoperasikan instrumen bernama Circular Slit Spectrometer (CISS) selama fenomena langit tersebut berlangsung di Spanyol.

Tim peneliti Italia mengembangkan CISS untuk mengamati lapisan terluar atmosfer Matahari dengan metode yang lebih cepat. Mereka akan melakukan pengujian instrumen tersebut di Javalambre Astrophysical Observatory, Spanyol.

Para ilmuwan berharap CISS mampu mengumpulkan informasi mengenai korona secara lebih efisien daripada spektrometer konvensional. Kemampuan tersebut menjadi penting karena kondisi korona dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif singkat.

Korona sendiri merupakan bagian terluar atmosfer Matahari yang memiliki suhu sangat tinggi. Aktivitas pada wilayah tersebut juga berhubungan dengan berbagai fenomena cuaca antariksa. Dalam kondisi tertentu, aktivitas Matahari dapat memberikan dampak terhadap teknologi di sekitar Bumi, termasuk sistem komunikasi hingga jaringan kelistrikan.

CISS Tawarkan Cara Baru Mengamati Korona Matahari

Circular Slit Spectrometer menawarkan rancangan yang berbeda dari instrumen spektrometer yang selama ini digunakan untuk mengamati korona.

Spektrometer konvensional umumnya memanfaatkan celah berbentuk garis. Instrumen kemudian harus memindai bagian korona secara bertahap untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas. Proses tersebut dapat membutuhkan waktu cukup lama.

CISS mencoba mengatasi keterbatasan tersebut melalui penggunaan celah berbentuk lingkaran. Rancangan ini memungkinkan instrumen menangkap spektrum korona pada jarak tertentu dari pusat Matahari dalam satu pengambilan gambar.

Federico Landini dari Astrophysical Observatory of Turin menjadi salah satu peneliti utama dalam proyek tersebut. Ia menjelaskan bahwa desain lingkaran pada instrumen menjadi bagian penting dari inovasi CISS.

Teknologi tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pengumpulan informasi. Kecepatan menjadi faktor penting karena kondisi korona tidak selalu bertahan lama.

Instrumen terdahulu bisa membutuhkan waktu berjam-jam untuk memindai beberapa bagian korona. Sementara itu, perubahan pada korona dapat berlangsung dalam hitungan menit. Perbedaan waktu tersebut berpotensi membuat ilmuwan kehilangan sejumlah informasi mengenai perubahan yang sedang berlangsung.

Jika pengujian berhasil, konsep optik pada CISS dapat membuka peluang pengembangan instrumen serupa untuk penelitian Matahari pada masa mendatang.

Gerhana Matahari Total Jadi Kesempatan Penting

Tim ilmuwan memilih gerhana Matahari total sebagai waktu pengujian karena fenomena tersebut menawarkan kondisi pengamatan yang sulit diperoleh pada hari biasa.

Ketika fase totalitas berlangsung, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Bulan kemudian menutupi piringan terang Matahari dari sudut pandang pengamat di wilayah tertentu.

Kondisi tersebut membuat cahaya dari permukaan Matahari tidak mendominasi pengamatan. Akibatnya, korona yang biasanya sulit terlihat menjadi lebih jelas.

Fenomena inilah yang akan dimanfaatkan tim untuk menguji kemampuan CISS.

Namun, para peneliti menghadapi tantangan besar karena fase totalitas hanya berlangsung dalam waktu terbatas. Seluruh instrumen harus berada dalam kondisi siap sebelum momen penting tersebut tiba.

Paola Zuppella, peneliti senior dari Institute for Photonics and Nanotechnologies di Padua, menilai tim harus melakukan persiapan secara matang. Selain memastikan alat bekerja dengan baik, para peneliti perlu membangun koordinasi yang tepat selama pengamatan.

Faktor cuaca juga memegang peranan penting. Awan yang menutupi Matahari ketika totalitas berlangsung dapat mengganggu proses pengumpulan data.

Pengamatan korona saat Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 menggunakan teknologi CISS.

Ilustrasi gerhana Matahari total. Artemis II juga memotret gerhana matahari total dari jarak hanya beberapa ribu mil di atas permukaan Bulan.

CISS Dikembangkan Selama Sekitar 2,5 Tahun

Para peneliti telah mengembangkan CISS selama kurang lebih dua setengah tahun. Karena itu, gerhana pada 12 Agustus 2026 menjadi salah satu tahap penting untuk membuktikan kemampuan instrumen tersebut dalam kondisi pengamatan sebenarnya.

Tim bahkan mengambil langkah khusus untuk membawa instrumen dari Italia menuju Spanyol.

Alih-alih menggunakan pesawat, mereka memilih mengangkut CISS melalui jalur darat menggunakan kendaraan van. Pilihan tersebut bertujuan mengurangi risiko selama perjalanan sekaligus menjaga konfigurasi instrumen.

Pengiriman menggunakan pesawat berpotensi mengharuskan tim membongkar beberapa bagian alat sebelum perjalanan. Setelah tiba di lokasi, mereka perlu merakit dan menyesuaikan kembali instrumen tersebut.

Perjalanan darat memungkinkan tim mempertahankan konfigurasi alat sehingga proses persiapan di lokasi pengamatan bisa lebih terkendali.

Selain itu, tim ingin menghindari risiko gangguan penerbangan yang dapat menghambat kedatangan mereka di Spanyol. Keterlambatan perjalanan akan menjadi masalah besar karena waktu gerhana tidak mungkin berubah mengikuti jadwal para peneliti.

Teknologi CISS Berpeluang Digunakan di Luar Angkasa

Keberhasilan pengujian CISS dapat memberikan dampak lebih luas terhadap penelitian Matahari. Para ilmuwan berharap prinsip teknologi tersebut nantinya bisa digunakan untuk mengembangkan instrumen dalam misi antariksa.

Sebelumnya, ilmuwan pernah menggunakan Ultraviolet Coronagraph Spectrometer (UVCS) untuk mempelajari korona. Instrumen tersebut berada di wahana Solar and Heliospheric Observatory (SOHO), sebuah proyek yang melibatkan European Space Agency (ESA) dan NASA.

UVCS mulai beroperasi pada 1996 dan menjalankan pengamatan hingga 2013. Instrumen itu memberikan kontribusi penting terhadap penelitian Matahari. Namun, proses pemetaan korona secara menyeluruh dapat membutuhkan waktu hingga berjam-jam.

CISS menawarkan pendekatan berbeda dengan mempercepat proses pengumpulan spektrum korona. Apabila teknologi tersebut bekerja sesuai rancangan, ilmuwan berpeluang mendapatkan gambaran perubahan korona dalam rentang waktu yang lebih singkat.

Pengujian pada 12 Agustus 2026 pun bukan sekadar eksperimen selama fenomena gerhana. Hasilnya dapat menjadi langkah awal untuk menentukan apakah konsep CISS layak dikembangkan lebih jauh.

Keberhasilan instrumen tersebut nantinya dapat membantu ilmuwan memahami dinamika korona dengan lebih baik. Pengetahuan itu juga penting untuk meningkatkan pemahaman mengenai aktivitas Matahari dan pengaruhnya terhadap lingkungan antariksa di sekitar Bumi.