Banjir Nepal-Tibet – Bencana banjir besar yang melanda Nepal hingga kawasan perbatasan Tibet terus menimbulkan korban jiwa. Hingga Selasa (1/9/2026), jumlah korban meninggal di laporkan telah melewati angka 1.000 orang. Sementara itu, tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap ribuan warga yang belum di temukan.
Berdasarkan laporan China Central Television (CCTV) yang mengutip keterangan kepolisian Nepal, korban meninggal akibat bencana tersebut mencapai 1.056 orang. Selain itu, lebih dari 3.900 orang masih masuk dalam daftar pencarian.
Banjir yang terjadi pada Rabu (26/8/2026) tersebut menerjang sejumlah wilayah dan menyebabkan kerusakan besar. Salah satu perhatian utama tim penyelamat saat ini adalah keberadaan ratusan pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang di duga terjebak di dalam terowongan.
Ratusan Pekerja Diduga Terjebak di Terowongan PLTA
Lebih dari 600 pekerja di perkirakan berada di jaringan terowongan proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli ketika banjir menerjang. Tim penyelamat berusaha membuka akses menuju lokasi tersebut sekaligus menjaga kemungkinan adanya korban yang masih bertahan hidup.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengalirkan udara ke dalam terowongan. Petugas juga sempat memasuki salah satu jalur bawah tanah untuk mencari para pekerja. Namun, mereka akhirnya kembali setelah pencarian tersebut belum menemukan korban.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengatakan petugas telah menyelamatkan sedikitnya 279 orang dari sejumlah kawasan terdampak sejak bencana terjadi.
Operasi pencarian tidak hanya melibatkan petugas Nepal. Personel militer dari Nepal dan China turut di terjunkan. Sejumlah ahli dari India, Korea, serta Australia juga bergabung untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan.
Di tengah operasi tersebut, keluarga para pekerja yang belum di temukan terus menunggu kabar. Mereka masih menyimpan harapan bahwa anggota keluarganya berhasil bertahan di dalam terowongan.
Anushila Bhandari, istri dari insinyur bernama Aurus Bhandari yang berusia 33 tahun, berharap suaminya dapat di temukan dan kembali ke rumah. Harapan yang sama datang dari Sita Pandey. Suaminya di ketahui sedang bekerja di fasilitas pembangkit listrik saat banjir melanda.
Pandey menilai peluang suaminya bertahan masih terbuka karena fasilitas bawah tanah tersebut memiliki sistem oksigen.
Lumpur dan Batu Besar Hambat Operasi Penyelamatan
Kondisi lapangan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi tim pencari. Banjir membawa lumpur, bebatuan berukuran besar, serta material lainnya yang mengubah kondisi wilayah terdampak secara drastis.
Insinyur asal Australia Arnold Dix yang terlibat dalam upaya penyelamatan menjelaskan bahwa posisi terowongan kini sulit di kenali. Perubahan bentang alam akibat terjangan air membuat petugas harus memetakan ulang lokasi sebelum melakukan proses penggalian.
Menurut Dix, tim terlebih dahulu harus menentukan titik terowongan dengan tepat. Setelah itu, petugas dapat memilih metode yang paling memungkinkan untuk membuka akses. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut bisa membutuhkan penggalian maupun peledakan batu.
Ukuran bebatuan yang terbawa banjir juga menjadi kendala tersendiri. Dix menggambarkan sejumlah batu di kawasan tersebut memiliki ukuran yang bahkan lebih besar di bandingkan sebuah rumah.
Walaupun menghadapi medan ekstrem, peluang menemukan korban selamat belum sepenuhnya tertutup. Struktur terowongan dinilai berpotensi melindungi pekerja dari arus deras yang menghantam permukaan.

Warga berkumpul saat operasi pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung pascabanjir bandang dahsyat di Nuwakot, Nepal, pada 27 Agustus 2026.
Proyek Pembangkit Listrik Ikut Mengalami Kerusakan
Dampak banjir turut di rasakan sektor energi Nepal. Negara tersebut memiliki ketergantungan besar terhadap pembangkit listrik tenaga air untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Sedikitnya 11 proyek PLTA di laporkan mengalami kerusakan akibat bencana. Jumlah tersebut mencakup fasilitas yang telah beroperasi maupun proyek yang masih berada dalam tahap pembangunan.
Kerusakan pada fasilitas energi berpotensi menambah tantangan pemerintah dalam melakukan pemulihan setelah kondisi darurat berakhir. Terlebih, petugas saat ini masih memprioritaskan pencarian korban serta pembukaan akses menuju daerah yang terdampak parah.
Identifikasi Korban Meninggal Berjalan Lambat
Besarnya jumlah korban membuat proses identifikasi jenazah menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah Nepal. Kementerian Kesehatan Nepal menyebut baru sekitar empat persen dari sekitar 900 jenazah yang di temukan dapat di identifikasi.
Situasi semakin rumit karena arus banjir membawa sebagian korban jauh dari lokasi awal bencana. Di Distrik Chitwan, misalnya, sekitar 300 jenazah di temukan setelah terbawa aliran sungai.
Keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat pemerintah daerah harus menggunakan metode pemakaman sementara. Pejabat Distrik Chitwan, Ganesh Aryaal, menjelaskan fasilitas pendingin yang tersedia tidak mampu menampung seluruh jenazah.
Sebagai langkah untuk membantu keluarga mengenali kerabatnya, petugas telah mengambil sampel DNA dari korban. Sampel tersebut nantinya dapat di gunakan dalam proses pencocokan identitas sebelum jenazah di serahkan kepada pihak keluarga.
Ratusan Orang Masih Hilang di Tibet
Banjir juga menyebabkan korban di wilayah Tibet. Berdasarkan laporan media pemerintah China, sedikitnya 16 orang meninggal dunia di kawasan tersebut. Selain itu, sebanyak 546 orang masih di laporkan hilang.
Dengan ribuan orang yang belum di temukan di Nepal serta ratusan korban hilang di Tibet, operasi pencarian di perkirakan masih akan berlangsung intensif. Kondisi medan, timbunan lumpur, bebatuan besar, serta rusaknya infrastruktur menjadi tantangan utama bagi petugas.
Pemerintah Nepal menilai bencana kali ini memiliki skala yang tidak biasa. Perdana Menteri Balendra Shah juga menyoroti ancaman bencana yang semakin besar di wilayah Himalaya.
Menurut Shah, perubahan iklim turut meningkatkan risiko yang di hadapi kawasan pegunungan tersebut. Kondisi itu membuat Nepal dan wilayah Himalaya lainnya perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi pada masa mendatang.
Di tengah besarnya kerusakan dan tingginya jumlah korban, fokus utama pemerintah serta tim internasional saat ini tetap tertuju pada pencarian ribuan orang yang belum di temukan. Harapan menemukan korban dalam kondisi selamat masih ada, terutama bagi ratusan pekerja yang di perkirakan berlindung atau terjebak di jaringan terowongan PLTA.