Bakpia menjadi salah satu makanan yang hampir tidak pernah terlewatkan ketika wisatawan berkunjung ke Yogyakarta. Kue berukuran kecil dengan kulit lembut dan isian manis ini mudah di temukan di berbagai pusat oleh-oleh. Di balik popularitasnya, bakpia mempunyai perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa.
Menurut informasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, bakpia tidak hanya di pandang sebagai makanan tradisional. Kuliner tersebut juga menjadi gambaran mengenai toleransi, penyesuaian, dan hubungan antarmasyarakat yang telah tumbuh di Yogyakarta selama puluhan tahun.
Berasal dari Tradisi Kuliner Tionghoa
Bakpia di percaya memiliki akar dari makanan khas Tionghoa. Pada awalnya, kue tersebut di buat dengan menggunakan daging serta lemak babi sebagai bahan isian. Resep itu kemudian mengalami perubahan setelah di perkenalkan kepada masyarakat Yogyakarta yang sebagian besar beragama Islam.
Lemak babi tidak lagi digunakan, sedangkan isian daging di ganti dengan kacang hijau yang telah di haluskan dan di beri rasa manis. Penyesuaian tersebut membuat bakpia dapat di nikmati oleh lebih banyak orang sekaligus sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.
Perubahan bahan tersebut menjadi contoh bahwa makanan dapat berkembang mengikuti lingkungan sosial dan budaya tempatnya di perkenalkan. Meskipun mengalami modifikasi, teknik dasar pembuatannya tetap mempertahankan pengaruh kuliner Tionghoa.
Awal Perkembangan Bakpia di Yogyakarta
Catatan sejarah menyebutkan bahwa resep bakpia di bawa ke Yogyakarta sekitar dekade 1940-an oleh seorang perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok. Ia mulai menjalankan usaha pembuatan bakpia di Kampung Suryowijayan, Mantrijeron.
Tempat yang di gunakan untuk menjalankan usaha tersebut merupakan milik Niti Gurnito. Ketika Kwik Sun Kwok meninggalkan lokasi itu, kegiatan produksi di lanjutkan oleh Niti Gurnito. Usahanya kemudian semakin dikenal dengan nama Bakpia Tamansari atau Bakpia Niti Gurnito.
Perkembangan bakpia juga tidak dapat di pisahkan dari peran Liem Bok Sing. Melalui hubungan dagang dengan Kwik Sun Kwok, ia mempelajari proses pembuatan kue tersebut. Pada 1948, Liem mulai memproduksi bakpia secara mandiri.

Ilustrasi bakpia.
Pathuk Menjadi Sentra Produksi Bakpia
Beberapa tahun setelah memulai usaha, keluarga Liem Bok Sing berpindah ke kawasan Pathuk, tepatnya di Jalan Aipda KS Tubun Nomor 75. Dari kawasan inilah sebutan Bakpia Pathuk mulai di kenal oleh masyarakat.
Permintaan yang terus meningkat mendorong banyak warga sekitar mengikuti usaha pembuatan bakpia. Produksi tidak lagi di lakukan oleh satu keluarga saja, tetapi berkembang menjadi industri rumahan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, Kampung Pathuk di kenal sebagai salah satu pusat bakpia terbesar di Yogyakarta. Wisatawan pun kerap mendatangi kawasan tersebut untuk membeli bakpia langsung dari produsennya.
Varian Rasa Terus Bertambah
Bakpia tradisional pada mulanya identik dengan isian kacang hijau. Namun, inovasi yang di lakukan para produsen membuat pilihan rasanya semakin beragam. Kini tersedia bakpia berisi cokelat, keju, pandan, durian, ubi ungu, hingga kacang hitam.
Walaupun banyak rasa baru bermunculan, varian kacang hijau tetap mempunyai tempat tersendiri bagi para penggemarnya. Rasa tersebut di nilai mampu mempertahankan karakter klasik bakpia.
Bakpia kini bukan sekadar camilan atau buah tangan. Makanan ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner Yogyakarta. Bentuknya memang sederhana, tetapi sejarahnya memperlihatkan bagaimana perbedaan budaya dapat di pertemukan melalui proses adaptasi, kebersamaan, dan sikap saling menghargai.