Pemecatan Xabi Alonso – Keputusan Real Madrid untuk mengakhiri kerja sama dengan Xabi Alonso pada awal Januari lalu menjadi perbincangan luas di kalangan sepak bola Eropa. Meskipun secara statistik performa Alonso bersama Los Blancos tergolong solid, manajemen klub menilai bahwa perpisahan tersebut merupakan langkah yang tidak terhindarkan. Pemecatan ini bahkan di anggap sebagai keputusan terbaik, bukan hanya bagi klub, tetapi juga untuk Alonso sebagai pelatih.
Xabi Alonso, yang saat ini berusia 44 tahun, sejatinya menunjukkan potensi besar sebagai pelatih kepala Real Madrid. Dalam periode kepemimpinannya, ia membawa tim menjalani total 28 pertandingan di berbagai kompetisi. Dari jumlah tersebut, Madrid mencatatkan 20 kemenangan, lima kekalahan, dan tiga hasil imbang. Catatan ini secara kasat mata mencerminkan kinerja yang cukup menjanjikan dan kompetitif.
Performa Tim yang Stabil Namun Tidak Ideal
Jika di lihat dari hasil pertandingan semata, sulit untuk mengatakan bahwa Alonso gagal. Persentase kemenangan yang tinggi menunjukkan bahwa Real Madrid tetap tampil dominan di banyak laga. Namun, sepak bola modern tidak hanya berbicara soal hasil di atas lapangan, tetapi juga stabilitas internal tim.
Di balik catatan positif tersebut, muncul permasalahan serius di ruang ganti. Hubungan antara pelatih dan sejumlah pemain di kabarkan tidak berjalan harmonis. Kondisi ini menjadi faktor utama yang mendorong manajemen klub mengambil keputusan tegas untuk mengakhiri masa jabatan Alonso lebih cepat dari yang di perkirakan.
Ruang ganti yang tidak kondusif sering kali menjadi bom waktu bagi klub sebesar Real Madrid. Dengan tekanan tinggi, ekspektasi besar, serta jadwal kompetisi yang padat, ketidakseimbangan internal dapat berdampak langsung pada performa jangka panjang tim.

Xabi Alonso mendapat keputusan terbaik di pecat Real Madrid.
Tanggapan Quique Sánchez Flores terhadap Pemecatan Alonso
Pemecatan Xabi Alonso juga mendapat perhatian dari pelatih asal Spanyol, Quique Sánchez Flores. Dalam pernyataannya kepada media, ia mengungkapkan bahwa keputusan tersebut sama sekali tidak mengejutkannya. Bahkan, Sánchez Flores menilai bahwa langkah ini justru merupakan pilihan paling tepat untuk Alonso secara pribadi.
Menurutnya, jika sebuah perpisahan memang harus terjadi, maka lebih baik di lakukan secepat mungkin. Ia menyebut bahwa situasi yang di alami Alonso terkesan sangat berat dan melelahkan secara emosional. Dalam pandangannya, Alonso menunjukkan sikap seorang pelatih yang telah berada di bawah tekanan besar.
Sánchez Flores juga menyoroti cara pengumuman pemecatan tersebut yang di nilai tragis, menyakitkan, dan tidak sepenuhnya adil. Namun demikian, ia menegaskan bahwa keputusan cepat dapat membantu seorang pelatih untuk segera bangkit dan melanjutkan kariernya tanpa terjebak dalam situasi yang semakin memburuk.
Dampak Pemecatan terhadap Real Madrid
Setelah kepergian Xabi Alonso, Real Madrid menunjuk Álvaro Arbeloa sebagai pelatih sementara. Arbeloa, yang juga merupakan mantan pemain Madrid, di harapkan mampu membawa stabilitas dalam masa transisi ini. Namun, awal kepemimpinannya tidak berjalan mulus.
Pada pertandingan pertamanya sebagai pelatih, Real Madrid harus menelan kekalahan di ajang Copa del Rey saat menghadapi Albacete. Hasil tersebut menambah tantangan bagi Arbeloa dalam membuktikan kapasitasnya di pinggir lapangan, sekaligus menenangkan situasi internal tim.
Kekalahan tersebut juga menunjukkan bahwa masalah yang di hadapi Madrid tidak bisa di selesaikan secara instan hanya dengan pergantian pelatih. Di butuhkan waktu, pendekatan manajerial yang tepat, serta komunikasi yang kuat antara staf pelatih dan pemain.
Masa Depan Xabi Alonso sebagai Pelatih
Meski pemecatan ini menjadi pukulan tersendiri, banyak pihak menilai bahwa karier kepelatihan Xabi Alonso masih sangat panjang. Pengalamannya menangani klub besar seperti Real Madrid menjadi modal berharga untuk langkah selanjutnya. Dengan usia yang relatif muda untuk seorang pelatih, Alonso masih memiliki banyak kesempatan untuk berkembang dan belajar dari pengalaman ini.
Keputusan berpisah lebih awal dinilai dapat menyelamatkan reputasinya sebagai pelatih potensial. Dengan menjauh dari tekanan besar di Madrid, Alonso berpeluang menemukan lingkungan kerja yang lebih sesuai untuk mengembangkan filosofi dan gaya kepelatihannya di masa depan.