Kasat Resnarkoba Polres Katingan AKP Affan Effendi berhasil menyelamatkan diri setelah bersembunyi di sebuah lubang saat operasi penangkapan bandar sabu di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, berubah menjadi penyerangan terhadap polisi. Insiden yang terjadi pada Kamis (2/7/2026) itu menewaskan tiga anggota kepolisian. Sementara itu, AKP Affan bertahan di lokasi persembunyiannya hingga bantuan datang keesokan harinya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu serangan paling mematikan yang dihadapi aparat saat menjalankan tugas pemberantasan narkotika.

Operasi Penangkapan Berakhir dengan Aksi Penyerangan

Tim Satresnarkoba Polres Katingan menggelar operasi untuk menangkap dua bandar sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah. Operasi itu awalnya berjalan sesuai rencana.

Situasi berubah ketika keluarga dan warga yang berada di sekitar lokasi memberikan perlawanan kepada petugas. Kondisi tersebut memaksa seluruh anggota kepolisian mencari cara untuk menyelamatkan diri.

Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan menjelaskan bahwa delapan anggota langsung melompat ke sungai. Mereka berusaha menghindari kejaran para pelaku.

Di sisi lain, AKP Affan mengalami kejadian berbeda. Saat berusaha menghindar, ia terjatuh ke sebuah lubang di tepi sungai. Lubang itu kemudian menjadi tempat persembunyiannya sepanjang malam.

Personel bantuan akhirnya datang pada hari berikutnya. Tim kemudian mengevakuasi AKP Affan dalam keadaan selamat.

Delapan Polisi Berenang Demi Menghindari Kejaran

Delapan anggota yang melompat ke sungai terus bergerak menjauh dari lokasi penyerangan. Mereka berenang sekitar 500 meter hingga mencapai tepian sungai.

Setelah itu, mereka menuju sebuah pulau kecil. Para anggota memanfaatkan lokasi tersebut untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Namun, pengejaran belum berakhir. Para pelaku terus memburu mereka dari darat. Kelompok tersebut juga melepaskan tembakan menggunakan senapan dumdum.

Dalam situasi itu, seorang anggota polisi terkena tembakan. Kondisi semakin berbahaya sehingga seluruh personel kembali melompat ke sungai untuk menyelamatkan diri.

Mereka terus berpindah tempat hingga berhasil keluar dari area penyerangan. Langkah tersebut menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan keselamatan.

Kasat Resnarkoba Polres Katingan

Ilustrasi polisi.

Tiga Anggota Gugur Saat Menjalankan Tugas

Setelah kondisi mulai terkendali, kepolisian melakukan pengecekan terhadap seluruh personel. Dari hasil pendataan, tiga anggota belum diketahui keberadaannya.

Petugas lebih dahulu menemukan Aipda Yudhi Perdana Putra dalam keadaan meninggal dunia. Korban mengalami luka bacok pada bagian kepala.

Tim pencarian kemudian menemukan jenazah Bripda Nopandri Ramadhana di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan pada Sabtu (4/7/2026).

Sehari setelahnya, tim kembali menemukan jenazah Aiptu Sumariyanto di kawasan DAS Katingan. Penemuan itu melengkapi proses pencarian terhadap seluruh personel yang terlibat dalam operasi.

Kapolda memastikan seluruh anggota yang selamat telah mengikuti konseling. Mereka juga menjalani pemulihan trauma sebelum kembali bertugas.

Penyidik Pisahkan Dua Perkara Hukum

Polda Kalimantan Tengah terus mengembangkan penyidikan kasus tersebut. Hingga kini, penyidik telah menetapkan sembilan orang sebagai tersangka.

Kapolda menjelaskan bahwa penyidik membagi proses hukum ke dalam dua perkara. Perkara pertama berkaitan dengan peredaran narkotika. Perkara kedua menyangkut dugaan pembunuhan terhadap anggota kepolisian yang sedang bertugas.

Pemisahan perkara dilakukan agar penyidik dapat mengusut setiap dugaan tindak pidana secara lebih maksimal. Seluruh proses penyidikan mengacu pada alat bukti yang telah di kumpulkan.

Kesembilan tersangka menghadapi ancaman hukuman yang sangat berat. Mereka dapat di jatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup apabila pengadilan menyatakan terbukti bersalah.

Kasus Menjadi Sorotan Penegakan Hukum

Penyerangan terhadap personel Satresnarkoba Polres Katingan menunjukkan besarnya risiko dalam pemberantasan narkotika. Aparat tidak hanya menghadapi jaringan peredaran sabu, tetapi juga perlawanan yang mengancam keselamatan jiwa.

Di tengah situasi tersebut, AKP Affan Effendi berhasil bertahan hidup setelah bersembunyi di sebuah lubang selama satu malam. Sementara itu, delapan anggota lainnya harus berenang ratusan meter untuk menghindari serangan.

Kini, proses hukum terhadap sembilan tersangka terus berjalan. Kepolisian juga berkomitmen menuntaskan pengusutan kasus agar seluruh pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.