Grand Hotel – PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney secara resmi menghidupkan kembali salah satu hotel legendaris di kawasan strategis Jalan Malioboro dengan mengembalikan nama historisnya menjadi Grand Hotel De Djokja. Langkah ini menjadi simbol penting dalam upaya pelestarian warisan budaya sekaligus membuka babak baru bagi perkembangan sektor pariwisata berbasis heritage di Indonesia.
Penggunaan kembali nama asli hotel tersebut bukan sekadar perubahan identitas, melainkan bagian dari strategi besar untuk mengangkat kembali nilai sejarah yang melekat kuat sejak awal berdirinya pada tahun 1911. Dengan demikian, hotel ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai representasi budaya dan sejarah yang memiliki daya tarik global.
Strategi Penguatan Pariwisata Berbasis Budaya
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menjelaskan bahwa revitalisasi Grand Hotel De Djokja. Merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat identitas pariwisata nasional melalui pendekatan budaya. InJourney berupaya menghadirkan wajah Indonesia yang autentik dengan menjadikan nilai-nilai sejarah sebagai fondasi utama pengembangan destinasi wisata.
Lebih lanjut, InJourney tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur pariwisata, tetapi juga menciptakan ekosistem yang berkarakter. Setiap aset yang di kelola di harapkan mampu mencerminkan kebanggaan nasional. Serta memberikan pengalaman yang berkelas dunia bagi wisatawan domestik maupun internasional.
Revitalisasi ini juga mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dan kebutuhan modernisasi. Sehingga tetap relevan dengan perkembangan industri hospitality global.
Jejak Sejarah Panjang Grand Hotel De Djokja
Grand Hotel De Djokja memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan penuh dinamika. Sejak pertama kali berdiri pada tahun 1911. Hotel ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama yang mencerminkan kondisi sosial dan politik pada masanya. Beberapa nama yang pernah di gunakan antara lain Hotel Asahi, Hotel Merdeka, Hotel Garuda, Natour Garuda, Inna Garuda, hingga Grand Inna Malioboro.
Pengembalian nama Grand Hotel De Djokja menjadi bentuk penghormatan terhadap akar sejarah sekaligus upaya mengembalikan identitas asli yang melekat pada bangunan tersebut.
Selain itu, hotel ini juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada periode 1945–1946, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia. Beberapa ruang di hotel ini di gunakan sebagai markas Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman. Salah satu ruang bersejarah tersebut kini di kenal sebagai “Sudirman Suite” yang masih menyimpan berbagai artefak bersejarah.
Transformasi Melalui InJourney Hospitality
Revitalisasi Grand Hotel De Djokja dikelola oleh InJourney Hospitality sebagai bagian dari portofolio strategis perusahaan. Transformasi ini sejalan dengan program pengembangan The Heritage Collection, yang bertujuan menghidupkan kembali hotel-hotel bersejarah di Indonesia.
Direktur Utama InJourney Hospitality, Christine Hutabarat, menekankan bahwa hotel ini di rancang bukan hanya sebagai tempat menginap. Tetapi juga sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman budaya yang autentik. Dengan pendekatan tersebut, Grand Hotel De Djokja di harapkan mampu menjadi pusat aktivitas yang menggabungkan unsur bisnis, kreativitas, dan pariwisata dalam satu lokasi.

InJourney Hospitality kembali hidupkan Grand Hotel De Djokja sebagai salah satu ikon hotel bernuansa heritage di gerbang Jalan Malioboro, Yogyakarta.
Fasilitas Modern dengan Sentuhan Klasik
Sebagai hotel bintang lima yang telah mengalami revitalisasi menyeluruh. Grand Hotel De Djokja menawarkan berbagai fasilitas premium yang di rancang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan modern.
Hotel ini memiliki 210 kamar dan suite yang menggabungkan desain klasik dengan teknologi terkini. Selain itu, tersedia berbagai fasilitas pendukung seperti ruang pertemuan, ballroom, dan hall yang dapat di gunakan untuk berbagai acara, mulai dari konferensi hingga pernikahan.
Untuk pengalaman kuliner, hotel ini menghadirkan restoran dengan menu Pan-Asia serta lounge eksklusif yang memberikan suasana elegan. Fasilitas lainnya meliputi pusat kebugaran modern, area bermain anak, kolam renang. Serta pool bar yang menawarkan suasana relaksasi di tengah kawasan Malioboro.
Ke depannya, Grand Hotel De Djokja juga akan menambah fasilitas seperti spa dan wellness center, restoran baru, serta suite heritage yang berlokasi di bagian bangunan bersejarah.
Soft Opening dan Daya Tarik Wisata
Grand Hotel De Djokja mulai menyambut tamu pada 16 Maret 2026 dalam tahap soft opening. Pada periode ini. Hotel menawarkan tarif spesial yang mengacu pada tahun berdirinya, yaitu 1911, sebagai simbol kesinambungan antara sejarah dan masa depan.
Momentum pembukaan ini bertepatan dengan periode libur Idul Fitri. Sehingga menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman menginap di hotel bersejarah dengan fasilitas modern di pusat Kota Yogyakarta.
Kesimpulan
Kembalinya Grand Hotel De Djokja menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali warisan budaya Indonesia melalui sektor pariwisata. Upaya ini tidak hanya memperkuat identitas nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global.
Dengan memadukan nilai sejarah dan inovasi modern. Grand Hotel De Djokja di harapkan mampu menjadi ikon baru sekaligus katalis dalam pengembangan ekosistem pariwisata berkelanjutan di Yogyakarta dan Indonesia secara keseluruhan.