KKB Yahukimo – Aparat keamanan yang tergabung dalam Satgas Operasi Damai Cartenz berhasil menangkap seorang narapidana yang sebelumnya melarikan diri dari Lapas Kelas IIB Wamena. Penangkapan tersebut terjadi pada Senin, 16 Maret 2026, sekitar pukul 17.50 WIT, di wilayah Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Narapidana tersebut di ketahui bernama Ferly Wesabla, yang juga di kenal dengan alias Ferlin. Ia merupakan salah satu anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang telah lama masuk dalam daftar pencarian aparat. Penangkapan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan aparat dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua Pegunungan.

Kronologi Penangkapan di Distrik Dekai

Proses penangkapan Ferly Wesabla tidak berlangsung mudah. Saat tim aparat mendekati lokasi persembunyiannya di Kompleks Perumahan Ekselon II, pelaku berusaha melarikan diri. Upaya tersebut memicu aksi kejar-kejaran antara pelaku dan petugas keamanan.

Ferly sempat bersembunyi di area semak-semak untuk menghindari penangkapan. Namun, berkat koordinasi dan kesigapan aparat, pelaku akhirnya berhasil di amankan setelah kurang lebih 30 menit pengejaran. Penangkapan ini menunjukkan kesiapan aparat dalam menghadapi situasi lapangan yang dinamis.

Selain mengamankan pelaku, aparat juga menyita sejumlah barang bukti yang berada dalam penguasaan Ferly. Barang-barang tersebut meliputi satu unit sepeda motor, noken, serta beberapa barang pribadi lainnya yang di duga di gunakan selama pelarian.

Keterlibatan dalam Kasus Pembunuhan

Ferly Wesabla di ketahui bukan narapidana biasa. Ia merupakan terpidana dalam kasus pembunuhan terhadap anggota Polres Yahukimo, Bripda Oktovianus Buara, yang terjadi pada tahun 2024. Dalam kasus tersebut, pengadilan telah menjatuhkan vonis bersalah kepada Ferly sebelum akhirnya ia melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan.

Lebih lanjut, Ferly juga tercatat sebagai anggota KKB yang tergabung dalam Kodap XVI Yahukimo, tepatnya di Batalyon Yalennang. Keberadaannya selama masa pelarian di nilai berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di wilayah tersebut.

KKB Yahukimo

Narapidana Lapas Klas IIB Wamena, Ferly Wesabla alias Ferlin ditangkap Satgas ODC di Kabupaten Yahukimo/ Doc. Humas Operasi Damai Cartenz.

Proses Hukum dan Koordinasi Lanjutan

Setelah berhasil di tangkap, Ferly Wesabla kini di amankan di Polres Yahukimo. Ia akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh penyidik guna mendalami keterlibatan serta kemungkinan jaringan yang masih aktif.

Aparat keamanan juga telah menjalin koordinasi dengan pihak Lapas Kelas IIB Wamena terkait proses administrasi dan mekanisme pengembalian narapidana tersebut. Langkah ini penting untuk memastikan prosedur hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, pihak kepolisian juga menekankan pentingnya peningkatan sistem keamanan di lembaga pemasyarakatan. Hal ini di lakukan agar kejadian pelarian narapidana serupa tidak terulang di masa mendatang.

Latar Belakang Pelarian dari Lapas Wamena

Ferly Wesabla sebelumnya melarikan diri dari Lapas Kelas IIB Wamena pada 25 Februari 2025. Ia tidak sendirian, melainkan bersama enam narapidana lainnya. Peristiwa ini sempat menjadi perhatian karena melibatkan sejumlah individu yang terkait dengan kelompok bersenjata.

Enam narapidana lain yang ikut kabur antara lain Penias Heluka alias Kopi Tua, yang di kenal sebagai salah satu pimpinan KKB Yahukimo, serta Nelis Helika, Rio Elopere, Ariel Sonyap, Segius Asso, dan Welinton Kogoya.

Pelarian tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan wilayah, mengingat beberapa dari mereka memiliki latar belakang kasus kriminal berat dan keterkaitan dengan kelompok bersenjata.

Pentingnya Penguatan Sistem Pengamanan

Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat di lembaga pemasyarakatan, terutama bagi narapidana dengan risiko tinggi. Sistem keamanan yang kuat serta pengawasan berlapis menjadi faktor krusial dalam mencegah pelarian.

Di sisi lain, penangkapan Ferly Wesabla menunjukkan komitmen aparat keamanan dalam menegakkan hukum dan menjaga ketertiban masyarakat. Upaya ini di harapkan dapat memberikan rasa aman serta memperkuat stabilitas di wilayah Papua Pegunungan.