1.000 Hari Pertama Dalam Kehidupan – Peringatan Hari Gizi Nasional 2026 di manfaatkan sebagai momentum strategis. Untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya pemenuhan gizi dan kesehatan pada fase awal kehidupan. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah penyelenggaraan gerakan bertajuk “1000 Hari Cinta – Ibu Sehat, Anak Cerdas” yang di laksanakan oleh Yayasan Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Kegiatan ini menjadi bentuk kampanye edukatif yang menekankan urgensi perhatian terhadap 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) anak sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Ketua Yayasan KPPB menyampaikan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan, yang di mulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Merupakan periode emas yang menentukan arah tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Pada fase ini, perkembangan otak, sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan fisik. Serta kesiapan kognitif dan emosional anak sangat di pengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, intervensi pada periode ini di nilai memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas kehidupan individu di masa depan.
Tantangan Stunting dan Dampaknya terhadap Masa Depan Generasi
Masalah stunting masih menjadi isu serius di Indonesia. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia, prevalensi anak yang mengalami stunting masih berada pada angka yang mengkhawatirkan, yakni sekitar satu dari lima anak. Kondisi ini tidak hanya mencerminkan persoalan kekurangan gizi, tetapi juga menunjukkan tantangan struktural dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Stunting berimplikasi luas terhadap kapasitas belajar, produktivitas kerja, serta risiko penyakit kronis di usia dewasa. Anak yang mengalami hambatan pertumbuhan cenderung memiliki keterbatasan dalam perkembangan kognitif dan fisik, yang pada akhirnya berdampak pada daya saing bangsa. Oleh sebab itu, pencegahan stunting perlu di pahami sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan sosial dan ekonomi nasional.

Psikolog anak dan keluarga Rika Kristina, M.Psi., Psikolog, Ketua Yayasan Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) Meiline Tenardi, ahli gizi masyarakat DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum, dan Inayah Wahid, dalam konferensi pers gerakan ?1000 Hari Cinta ? Ibu Sehat, Anak Cerdas? di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Perencanaan Gizi Sejak Pra-Kehamilan
Para ahli yang terlibat dalam kegiatan ini menegaskan bahwa perhatian terhadap 1.000 hari pertama kehidupan tidak seharusnya di mulai ketika ibu mendekati persalinan. Perencanaan justru perlu di lakukan jauh sebelum kehamilan terjadi. Status gizi calon ibu, pola hidup sehat, serta kesiapan fisik dan mental menjadi faktor penentu kualitas kehamilan dan kesehatan janin.
Kesalahan dalam pemenuhan gizi pada fase awal ini berpotensi menimbulkan dampak permanen yang sulit di perbaiki di kemudian hari. Kekurangan nutrisi esensial dapat memengaruhi pembentukan jaringan otak, fungsi metabolisme, serta ketahanan tubuh anak. Oleh karena itu, pendekatan preventif berbasis edukasi dan perencanaan keluarga menjadi langkah krusial dalam mendukung keberhasilan 1.000 HPK.
Peran Stimulasi dan Kesehatan Mental dalam Perkembangan Anak
Selain aspek gizi, stimulasi perkembangan dan kesehatan mental ibu juga memegang peranan penting dalam optimalisasi 1.000 hari pertama kehidupan. Masih terdapat anggapan bahwa stimulasi baru di perlukan setelah anak lahir atau bahkan saat memasuki usia sekolah. Padahal, stimulasi sensori dan emosional dapat di mulai sejak janin berada dalam kandungan melalui interaksi positif antara ibu dan calon bayi.
Stimulasi dini berfungsi sebagai cetak biru kualitas sumber daya manusia, karena memengaruhi pembentukan karakter, kecerdasan emosional, serta kemampuan sosial anak. Di sisi lain, kesehatan mental ibu selama kehamilan dan masa menyusui turut menentukan kualitas pengasuhan dan ikatan emosional antara ibu dan anak. Oleh sebab itu, pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial sangat di perlukan.
Edukasi Publik melalui Kegiatan Sosial dan Budaya
Gerakan “1000 Hari Cinta – Ibu Sehat, Anak Cerdas” di rancang sebagai ruang edukasi publik yang inklusif dan mudah di pahami oleh masyarakat luas. Rangkaian kegiatan meliputi pemutaran film pendek edukatif yang merefleksikan realitas keluarga Indonesia dalam menghadapi tantangan 1.000 hari pertama kehidupan. Selain itu, di selenggarakan pula diskusi interaktif bersama para ahli mengenai gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, MPASI, stimulasi tumbuh kembang, serta kesehatan mental ibu.
Kegiatan ini juga di perkaya dengan pertunjukan seni dan aksi sosial berupa pembagian paket kebutuhan pokok kepada perempuan prasejahtera. Pendekatan ini di harapkan mampu menjembatani pesan ilmiah dengan realitas sosial. Sehingga edukasi yang di sampaikan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga aplikatif dan berkelanjutan.
Melalui gerakan ini, di harapkan masyarakat, khususnya ibu dan keluarga. Memiliki pemahaman yang lebih kuat dalam mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan dan kesejahteraan anak sejak awal kehidupan. Dengan demikian, peringatan Hari Gizi Nasional tidak hanya menjadi agenda seremonial. Tetapi juga sarana penguatan komitmen bersama dalam membangun generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas.