PT Suzuki Indomobil Sales – menilai bahwa pertumbuhan pasar otomotif di Indonesia tidak bisa semata-mata mengandalkan stimulus dari pemerintah. Menurut Deputy Sales & Marketing Managing Director PT SIS, Dony Ismi Saputra, agar pasar kembali bergerak positif, di butuhkan tiga faktor kunci: inovasi produk, kondisi ekonomi yang membaik, dan kebijakan pemerintah yang mendukung.

“Jika berbicara mengenai upaya menggerakkan pasar, setidaknya ada tiga pilar. Pertama berasal dari masing-masing merek, yaitu dengan menghadirkan produk baru,” kata Dony dalam wawancara dengan Kompas.com. Produk baru dianggap sebagai salah satu dorongan utama untuk menarik minat konsumen, terutama dalam persaingan yang semakin ketat antar-merek.

Dony menambahkan, setiap perusahaan otomotif perlu memperkenalkan inovasi agar konsumen kembali tertarik membeli kendaraan. Kehadiran produk terbaru tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga memperkuat citra merek di mata publik.

Kondisi Ekonomi sebagai Faktor Pendukung

Selain inovasi produk, kondisi ekonomi nasional menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan pasar otomotif. Peningkatan ekonomi secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat, sehingga potensi penjualan kendaraan ikut meningkat.

Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyebut bahwa Indonesia berpeluang melampaui target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026. Sebagai ilustrasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 tercatat sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dengan membaiknya kondisi ekonomi, masyarakat di harapkan memiliki keyakinan lebih untuk melakukan pembelian kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor. Dony menekankan bahwa kondisi ekonomi yang stabil akan membuat strategi inovasi produk menjadi lebih efektif.

Strategi PT Suzuki Indomobil Sales

Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Peran Regulasi Pemerintah dalam Mendorong Pasar

Faktor ketiga yang turut memengaruhi pasar adalah regulasi dan kebijakan pemerintah. Stimulus dapat hadir dalam berbagai bentuk, seperti pengurangan pajak barang mewah (PPnBM) atau insentif lainnya yang mendukung industri otomotif.

“Regulasi memang membantu, tetapi tanpa adanya produk baru dan kondisi ekonomi yang sehat, dampaknya akan terbatas,” jelas Dony. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah berperan sebagai pelengkap, bukan faktor tunggal untuk memacu pasar.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan insentif bagi sektor otomotif. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengajukan usulan stimulus untuk periode fiskal 2026 kepada Menteri Keuangan. Namun hingga awal Januari 2026, keputusan final mengenai kelanjutan insentif ini belum di tetapkan. “Usulan insentif untuk otomotif sudah kami sampaikan ke Menkeu,” kata Agus.

Sinergi antara Pemerintah, Industri, dan Merek

Dony menekankan bahwa pemulihan pasar otomotif membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan perusahaan otomotif. Stimulus dari pemerintah memang penting, namun inovasi produk dan kondisi ekonomi yang mendukung tetap menjadi faktor utama.

Dengan menggabungkan ketiga pilar ini—produk baru, ekonomi yang membaik, dan kebijakan yang tepat—industri otomotif di harapkan mampu tumbuh secara berkelanjutan. PT Suzuki Indomobil Sales menekankan pentingnya strategi jangka panjang agar pasar tetap stabil, dan pertumbuhan penjualan dapat berlanjut di tengah persaingan yang semakin ketat.