Banjir Taman Cikande – Banjir masih menjadi permasalahan lingkungan yang sering terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di kawasan permukiman yang berada di sekitar daerah aliran sungai. Salah satu kejadian banjir kembali melanda kawasan Perumahan Taman Cikande yang berlokasi di Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 14 Januari 2026, dan menyebabkan genangan air dengan ketinggian yang bervariasi di lingkungan permukiman warga.
Kawasan perumahan tersebut di ketahui berada tidak jauh dari aliran Sungai Cidurian, salah satu sungai utama di wilayah Kabupaten Tangerang. Ketika debit air sungai meningkat secara signifikan, kawasan permukiman di sekitarnya menjadi rentan terhadap luapan air. Kondisi ini di perparah oleh faktor cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir sebelum banjir melanda.
Intensitas Curah Hujan sebagai Faktor Pemicu
Salah satu penyebab utama terjadinya banjir di Perumahan Taman Cikande adalah tingginya intensitas curah hujan yang berlangsung secara terus-menerus selama kurang lebih tiga hari. Hujan dengan volume besar menyebabkan peningkatan debit air Sungai Cidurian hingga melampaui kapasitas tampungnya. Akibatnya, air sungai meluap dan menggenangi kawasan permukiman warga.
Curah hujan yang tinggi dalam waktu relatif singkat tidak hanya berdampak pada kenaikan volume air sungai, tetapi juga mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air secara optimal. Ketika daya resap tanah menurun, air hujan akan mengalir di permukaan dan bermuara ke sungai, sehingga mempercepat terjadinya luapan. Kondisi ini sering terjadi pada musim hujan, khususnya ketika intensitas hujan meningkat tanpa disertai jeda yang cukup.

Foto udara kawasan permukiman yang terendam banjir di Perumahan Taman Cikande, Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/1/2026).
Dampak Genangan Air terhadap Permukiman Warga
Luapan Sungai Cidurian mengakibatkan ketinggian genangan air di Perumahan Taman Cikande bervariasi, mulai dari sekitar 60 sentimeter hingga mencapai dua meter di beberapa titik. Tingginya genangan tersebut menyebabkan aktivitas warga terganggu dan membatasi mobilitas di lingkungan permukiman. Sejumlah ruas jalan di dalam perumahan tidak dapat di lalui, sehingga menyulitkan akses keluar masuk kawasan.
Banjir yang telah berlangsung sejak Minggu, 11 Januari 2026, ini berdampak langsung pada ratusan rumah penduduk. Berdasarkan data yang tersedia, sedikitnya 222 kepala keluarga terdampak oleh peristiwa banjir tersebut. Air yang masuk ke dalam rumah warga berpotensi merusak perabotan, peralatan elektronik, serta dokumen penting milik masyarakat. Selain itu, kondisi lingkungan yang tergenang dalam waktu lama dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Kerentanan Wilayah Permukiman terhadap Banjir
Kejadian banjir di Perumahan Taman Cikande mencerminkan kerentanan kawasan permukiman yang berada di sekitar sungai. Pertumbuhan kawasan hunian yang pesat sering kali tidak di imbangi dengan sistem drainase dan pengelolaan lingkungan yang memadai. Akibatnya, ketika terjadi peningkatan debit air sungai, kawasan tersebut menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.
Selain faktor geografis, perubahan tata guna lahan juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir. Berkurangnya area resapan air akibat pembangunan dapat mempercepat aliran air permukaan menuju sungai. Jika kondisi ini terjadi bersamaan dengan curah hujan tinggi, potensi terjadinya banjir akan semakin besar.
Pentingnya Pengelolaan Lingkungan dan Mitigasi Bencana
Peristiwa banjir di Kabupaten Tangerang menunjukkan pentingnya upaya pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana yang berkelanjutan. Normalisasi sungai, perbaikan sistem drainase, serta peningkatan kapasitas daerah resapan air menjadi langkah yang perlu di perhatikan dalam perencanaan wilayah. Selain itu, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah ke sungai, juga berperan dalam mengurangi risiko banjir.
Dengan adanya pengelolaan yang terintegrasi antara pemerintah dan masyarakat, di harapkan dampak banjir di kawasan permukiman dapat diminimalkan. Peristiwa ini dapat menjadi bahan kajian penting dalam perencanaan tata ruang dan pengelolaan sumber daya air, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir tinggi.