Jadwal Rerainan Hindu September 2026 – Umat Hindu di Bali akan memperingati sejumlah rerainan atau hari suci sepanjang September 2026. Berbagai hari penting dalam kalender keagamaan Hindu tersebut memiliki makna yang berbeda, mulai dari penghormatan terhadap hewan dan kesuburan hingga pelaksanaan persembahyangan untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Rangkaian rerainan Hindu pada September 2026 dimulai dengan Tumpek Kandang yang jatuh pada 5 September. Selanjutnya, umat Hindu akan memperingati beberapa hari suci lainnya hingga Buda Kliwon Ugu pada penghujung bulan.

Bagi umat Hindu, rerainan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual keagamaan. Setiap hari suci juga membawa nilai spiritual yang mengingatkan manusia tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam dan makhluk hidup di sekitarnya.

Pemahaman terhadap makna rerainan menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, peringatan hari suci tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan rasa syukur, memperkuat kehidupan spiritual, dan menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Berikut jadwal rerainan umat Hindu di Bali sepanjang September 2026 beserta penjelasan singkat mengenai beberapa hari suci tersebut.

5 September 2026: Tumpek Kandang

Tumpek Kandang atau yang juga di kenal sebagai Tumpek Uye menjadi rerainan pertama pada September 2026. Hari suci ini menjadi momentum untuk menunjukkan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap keberadaan hewan.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, hewan memiliki peran yang cukup dekat dengan aktivitas manusia. Tidak hanya sebagai hewan peliharaan, sejumlah jenis hewan juga mendukung kehidupan masyarakat dalam berbagai bidang.

Tumpek Kandang berkaitan dengan pemujaan kepada Sang Hyang Rare Angon. Pada momentum tersebut, umat Hindu memberikan perhatian dan penghormatan kepada hewan, terutama ternak maupun hewan yang dipelihara.

Selain sebagai bentuk rasa syukur, umat juga memanjatkan permohonan agar hewan mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Nilai yang terkandung di dalam Tumpek Kandang sekaligus mengingatkan manusia agar memperlakukan makhluk hidup dengan baik.

9 September 2026: Buda Wage Menail

Empat hari setelah Tumpek Kandang, kalender rerainan memasuki Buda Wage Menail pada 9 September 2026. Hari tersebut menjadi bagian dari rangkaian hari penting yang di perhitungkan berdasarkan sistem kalender tradisional Bali.

Buda Wage merupakan pertemuan antara Saptawara Buda atau Rabu dengan Pancawara Wage. Sementara itu, Menail menjadi salah satu wuku dalam sistem pawukon yang di gunakan masyarakat Hindu Bali.

10 September 2026: Kajeng Kliwon Uwudan

Pada 10 September 2026, umat Hindu di Bali memasuki Kajeng Kliwon Uwudan. Kajeng Kliwon merupakan salah satu rerainan yang memiliki posisi penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Hindu Bali.

Kajeng Kliwon Uwudan merujuk pada Kajeng Kliwon yang berlangsung setelah Purnama. Momentum tersebut berkaitan erat dengan upaya menjaga keseimbangan kehidupan, termasuk keseimbangan antara unsur positif dan negatif.

Karena itu, sebagian umat menjalankan berbagai bentuk persembahyangan maupun menghaturkan sarana upacara sesuai tradisi dan kebiasaan masing-masing.

Jadwal rerainan Hindu di Bali September 2026

Umat Hindu membawa perlengkapan ibadah saat upacara persembahyangan Hari Raya Kuningan di Pura Giri Indra Lokha, Kota Baru, Jambi, Sabtu (27/6/2026). Hari Raya Kuningan di rayakan umat Hindu dalam rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dengan harapan bisa menjadi pribadi yang tenang, bijaksana dan penuh empati terhadap sesama.

11 September 2026: Tilem dan Hari Bhatara Sri

Sehari setelah Kajeng Kliwon Uwudan, terdapat dua peringatan pada 11 September 2026, yakni Tilem dan Hari Bhatara Sri.

Tilem berlangsung ketika fase bulan memasuki bulan mati. Pada hari tersebut, umat Hindu biasanya melakukan persembahyangan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesucian diri dan kehidupan spiritual.

Sementara itu, Hari Bhatara Sri memiliki kaitan dengan penghormatan terhadap kesuburan dan kemakmuran. Dalam kehidupan masyarakat agraris Bali, penghormatan terhadap aspek kesuburan mempunyai arti penting karena berkaitan erat dengan keberlangsungan kehidupan dan ketersediaan pangan.

25 September 2026: Kajeng Kliwon Enyitan

Rerainan berikutnya jatuh pada 25 September 2026, yaitu Kajeng Kliwon Enyitan. Berbeda dengan Kajeng Kliwon Uwudan, Kajeng Kliwon Enyitan berlangsung setelah fase bulan mati atau Tilem.

Ketika Kajeng Kliwon tiba, umat Hindu di Bali umumnya menghaturkan banten segehan. Persembahan tersebut menjadi salah satu sarana dalam menjaga keharmonisan sekaligus menetralisasi pengaruh negatif secara niskala.

Pelaksanaannya dapat menyesuaikan tradisi yang berlaku di masing-masing keluarga, desa adat, maupun lingkungan masyarakat.

26 September 2026: Hari Purnama

Sehari setelah Kajeng Kliwon Enyitan, umat Hindu memperingati Hari Purnama pada 26 September 2026. Purnama berlangsung ketika bulan berada dalam kondisi penuh atau Sukla Paksa.

Momentum Purnama mempunyai nilai spiritual tersendiri bagi umat Hindu. Pada hari tersebut, umat di anjurkan menjaga kesucian lahir dan batin serta melaksanakan persembahyangan.

Selain bersembahyang, umat dapat menghaturkan yadnya atau persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui pelaksanaan tersebut, umat memohon anugerah, keselamatan, serta keharmonisan dalam kehidupan.

Purnama sekaligus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran spiritual. Oleh karena itu, umat dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan introspeksi dan memperkuat rasa syukur.

30 September 2026: Buda Kliwon Ugu

Rangkaian rerainan Hindu di Bali sepanjang September 2026 di tutup dengan Buda Kliwon Ugu pada 30 September.

Buda Kliwon merupakan pertemuan antara hari Buda atau Rabu dalam Saptawara dengan Kliwon dalam Pancawara. Sementara Ugu merupakan salah satu wuku dalam sistem pawukon Bali.

Bagi umat Hindu, Buda Kliwon Ugu menjadi salah satu momentum untuk melaksanakan kegiatan spiritual serta memohon penyucian dan keseimbangan secara niskala.

Dengan demikian, rangkaian rerainan sepanjang September 2026 membawa beragam pesan bagi umat Hindu. Selain menjadi waktu untuk menjalankan kewajiban keagamaan, hari-hari suci tersebut mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, lingkungan, makhluk hidup, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Melalui pemahaman terhadap makna setiap rerainan, umat dapat menjadikan hari suci sebagai momentum untuk meningkatkan rasa syukur, memperkuat spiritualitas, serta menerapkan nilai keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.